TARAKAN – Medan pertempuran generasi muda kini telah bergeser drastis. Jika pada tahun 1965 bangsa Indonesia berdarah-darah menghadapi pemberontakan fisik, pelajar masa kini justru tengah dijajah secara diam-diam oleh hawa nafsu sendiri melalui kecanduan game online, judi online, hingga pornografi.
Realitas keras inilah yang menjadi sorotan utama Kepala SMP Muhammadiyah 2 Tarakan, Juanda, saat memimpin upacara gabungan Hari Kesaktian Pancasila dan Milad KOKAM bersama SMA Muhammadiyah Tarakan, Kamis (1/10/2026).
Alih-alih sekadar bernostalgia dengan sejarah, Juanda menggunakan momentum 1 Oktober untuk membongkar paradigma perjuangan era modern. Ia mengingatkan kembali bagaimana militansi Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) saat mengambil peran vital menjaga ulama dan negara dari pengkhianat bangsa pada tragedi G30S/PKI. Untuk merawat ingatan tersebut, pihak sekolah turut menugaskan para siswa menonton kembali film sejarah pembunuhan Jenderal Ahmad Yani dan jenderal lainnya.
Namun, Juanda menegaskan bahwa mewarisi keberanian KOKAM hari ini tidak lagi dilakukan di medan perang konvensional.
“Jika di zaman awal kemerdekaan para pahlawan kita melawan penjajah, saat ini perjuangan kita tidak mudah karena melawan diri sendiri. Banyak pelajar yang terjebak di tiga problem utama: kecanduan game online, judi online, dan pornografi,” tegas Juanda membedah ancaman terbesar generasi saat ini.
Menghadapi “penjajah gaya baru” tersebut, upacara ini diakhiri dengan sebuah seruan perlawanan. Alih-alih baris-berbaris semata, Juanda menantang seluruh pelajar Muhammadiyah untuk membentengi diri dengan tiga senjata utama masa kini: menjadi pribadi yang cerdas dalam berpikir, cerdas secara emosional, dan cerdas dalam menjaga akhlak.