TARAKAN — Membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya melalui pembelajaran kepada siswa. Para pendidik juga perlu menjadi teladan dalam mencintai dan mempelajari kitab suci. Semangat tersebut terlihat dalam agenda rutin Kajian Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) SMP Muhammadiyah 2 Tarakan yang digelar setiap Jumat dengan fokus pembelajaran tahsin menggunakan Metode Ali.
Program yang telah berjalan konsisten selama kurang lebih satu tahun tersebut menjadi ruang bagi para guru untuk bersama-sama meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an. Kepala SMP Muhammadiyah 2 Tarakan, Juanda, menyebut kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menyelaraskan kapasitas pendidik dengan visi sekolah dalam melahirkan generasi Qur’ani.
Menurut Juanda, guru memiliki posisi penting dalam memberikan contoh kepada peserta didik. Karena itu, kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik perlu menjadi bagian dari peningkatan kapasitas seorang pendidik. Ia menilai akan menjadi sebuah ironi apabila sekolah mendorong siswa mencintai Al-Qur’an, sementara gurunya sendiri belum memiliki kemampuan bacaan yang baik.
Antusiasme para GTK mengikuti kajian setiap pekan turut menjadi hal yang disyukuri Juanda. Baginya, semangat para guru untuk kembali belajar menunjukkan bahwa proses menjadi pendidik tidak pernah berhenti. Guru bukan hanya bertugas mengajarkan ilmu, tetapi juga harus memiliki kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Pembelajaran pun tidak dirancang berhenti pada kemampuan membaca sesuai kaidah tajwid. Ke depan, kajian akan dikembangkan secara bertahap menuju pemahaman tafsir ayat Al-Qur’an. Dengan demikian, para GTK diharapkan tidak hanya mampu membaca dengan benar, tetapi juga memahami serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah yang dilakukan SMP Muhammadiyah 2 Tarakan menjadi gambaran bahwa pendidikan Qur’ani perlu dibangun dari lingkungan pendidiknya. Ketika guru memiliki semangat belajar dan memberikan keteladanan, nilai-nilai Al-Qur’an diharapkan tidak sekadar menjadi materi pembelajaran, tetapi tumbuh menjadi budaya yang hidup di lingkungan sekolah.