TARAKAN — Kesibukan mengajar tidak menjadi alasan bagi para guru SMP Muhammadiyah 2 Tarakan untuk berhenti memperbaiki bacaan Al-Qur’an. Setiap Jumat, Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) mengikuti kajian tahsin yang menggunakan Metode Ali, sebuah pembelajaran yang menekankan pemahaman sederhana dan praktik langsung dalam memperbaiki pelafalan serta tajwid.

Bagi para peserta, metode pembelajaran yang praktis menjadi salah satu alasan kajian tersebut mampu menarik antusiasme. Mariyani, salah satu guru yang mengikuti kegiatan, mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan untuk kembali mempelajari ilmu Al-Qur’an yang sebelumnya belum ia pahami secara mendalam, terutama dalam ketepatan setiap lafal.

“Alhamdulillah, rasanya sangat senang dan bersyukur. Saya jadi belajar lagi ilmu baru yang sebelumnya belum saya pahami di setiap lafalnya,” ujar Mariyani. Ia menuturkan, keinginannya memperbaiki bacaan Al-Qur’an agar sesuai dengan kaidah tajwid menjadi motivasi utama mengikuti kajian tersebut.

Menurut Mariyani, Metode Ali membuat proses belajar terasa lebih mudah karena peserta tidak hanya menerima penjelasan secara teori. Materi langsung diarahkan pada praktik sehingga kesalahan maupun ketidaktepatan dalam membaca dapat lebih mudah dikenali dan diperbaiki.

“Metodenya sangat mudah dipahami. Penjelasannya sederhana dan kita langsung diarahkan pada praktik, jadi cepat mengerti,” tambahnya. Pendekatan tersebut dinilai relevan bagi peserta dewasa yang memiliki rutinitas padat sebagai tenaga pendidik, namun tetap ingin meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an secara bertahap.

Kajian tahsin ini sendiri telah berjalan secara rutin selama sekitar satu tahun dan menjadi bagian dari agenda Kajian GTK SMP Muhammadiyah 2 Tarakan. Kepala sekolah Juanda berharap pembelajaran tidak berhenti pada peningkatan kemampuan membaca, tetapi terus berkembang menuju kajian tafsir dan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dalam keseharian.

Konsistensi tersebut menunjukkan bahwa memperbaiki bacaan Al-Qur’an dapat dilakukan melalui proses belajar yang bertahap, praktis, dan berkelanjutan. Dari ruang belajar para guru, semangat tersebut diharapkan turut menular kepada para siswa sehingga tercipta lingkungan sekolah yang semakin dekat dengan Al-Qur’an. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *