Barisan pelajar berdiri rapi di bawah terik matahari pagi di Lapangan Perguruan Muhammadiyah Tarakan. Mereka mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila dan Milad KOKAM, sebuah momentum yang tidak hanya mengingatkan sejarah bangsa, tetapi juga menghadirkan refleksi tentang perjuangan generasi masa kini.

Di hadapan para siswa, Kepala SMP Muhammadiyah 2 Tarakan (SMP MUDA), Juanda, mengisahkan kembali peristiwa kelam G30S/PKI tahun 1965. Ia mengingatkan bagaimana para pahlawan bangsa harus menghadapi ancaman nyata demi menjaga keutuhan Indonesia.

Namun menurutnya, medan perjuangan saat ini telah berubah. Generasi muda tidak lagi berhadapan dengan penjajah yang membawa senjata, melainkan dengan tantangan yang hadir melalui layar ponsel dan perangkat digital yang mereka gunakan setiap hari.

“Kalau dulu para pahlawan berjuang melawan penjajah, sekarang kalian berjuang melawan diri sendiri,” pesannya kepada para siswa.

Juanda menyebut tiga ancaman yang banyak mengintai pelajar saat ini, yakni kecanduan game online, judi online, dan pornografi. Ketiganya dinilai mampu merampas waktu, konsentrasi, bahkan masa depan generasi muda jika tidak dikendalikan dengan baik.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, ia mengajak para siswa untuk tidak hanya menjadi generasi yang pintar secara akademik. Lebih dari itu, mereka perlu memiliki kecerdasan emosional serta akhlak yang kuat sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan zaman.

Pesan tersebut menjadi penutup refleksi yang menghubungkan perjuangan para pahlawan masa lalu dengan perjuangan generasi muda hari ini. Sebab menjaga Indonesia tidak selalu dilakukan di medan perang, tetapi juga melalui kemampuan menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak masa depan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *