TARAKAN – Peristiwa sejarah 1 Oktober 1965 menjadi refleksi mendalam dalam upacara gabungan peringatan Hari Kesaktian Pancasila dan Milad KOKAM di lapangan Perguruan Muhammadiyah Tarakan, Kamis (1/10/2026). Di hadapan barisan siswa SMP Muhammadiyah 2 (SMP MUDA) dan SMA Muhammadiyah, Kepala SMP MUDA, Juanda, yang bertindak selaku Pembina Upacara, menyampaikan amanat heroik mengenai sejarah bangsa dan tantangan era modern.

Membuka amanatnya, Juanda mengajak para pelajar untuk memahami situasi genting pemberontakan G30S/PKI. Ia memaparkan tragedi kelam penculikan dan pembunuhan Jenderal Ahmad Yani beserta jenderal lainnya yang digugurkan dan dikubur dalam satu sumur.

“Satu Oktober adalah momentum pembalasan atas pengkhianatan bangsa, sekaligus pengingat betapa pentingnya menjaga persatuan. Di masa genting itu, KOKAM mengambil peran bersejarah, turun langsung menjaga ulama dan bangsa kita melawan para pengkhianat,” tegas Juanda. Ia juga mengimbau seluruh siswa untuk menonton kembali film G30S/PKI yang telah dibagikan agar tidak melupakan sejarah.

Lebih lanjut, Juanda menarik benang merah perjuangan masa lalu ke realitas pelajar masa kini. Ia menekankan bahwa medan pertempuran generasi muda telah berubah drastis. Jika di zaman kemerdekaan para pahlawan berdarah-darah melawan penjajah, saat ini pelajar dihadapkan pada perjuangan berat melawan diri sendiri.

“Banyak pelajar saat ini yang terjebak pada tiga problem utama: kecanduan game online, judi online, dan pornografi. Melawan ini tidaklah mudah,” ungkapnya memberikan peringatan keras.

Sebagai benteng pertahanan dalam menghadapi penjajahan gaya baru tersebut, Juanda menegaskan pentingnya keseimbangan diri. Ia berpesan agar seluruh pelajar Muhammadiyah senantiasa membekali diri dengan menjadi individu yang cerdas dalam berpikir, cerdas secara emosional, dan cerdas dalam menjaga akhlak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *